Perang Tarif Operator Ponsel, Masyarakat Untung

8120b.jpg 

Sungguh sangat beruntung kita yang hidup sekarang. Kita tak lagi dikuasai oleh praktik monopoli dalam dunia bisnis yang berkaitan langsung dengan pelayanan atau kebutuhan masyarakat. Salah satu kebutuhan kita pastilah layanan jasa telekomunikasi.
Dahulu di negeri ini hanya hanya satu perusahaan (Perusahaan Umum Telekomunikasi– kini PT Telkom). Waktu itu sambungan telepon ke rumah masih tergolong barang mewah. Akibatnya hanya segelintir orang yang sanggup menikmati layanan jasa telekomunikasi. Sekarang siapapun sanggup bertelekomunikasi ria dengan siapapun, kapanpun, di manapun (meskipun belum semua wilayah terjangkau).
Bayangkan, kini tukang beca dan tukang beling pun memiliki hand phone (HP – telepon genggam), atau telepon seluler (ponsel) Maklum, harga pesawat telepon genggam terus menurun, apalagi bekas pakai.
Sebuah pusat perbelanjaan baru di pusat kota Bandung berpromosi pada hari dan jam tertentu dengan program ”Serba Rp.1.000”. Salah satu barang yang ditawarkan dengan harga ”gila” (hanya seribu rupiah) itu adalah HP baru. Harga asli ponsel baru itu hampir Rp 300.000. Kata seorang teman, ”Sekarang anak TK pun sanggup membeli ponsel baru.”
Demokratisasi dan liberalisasi dalam dunia layanan jasa telekomunikasi di negeri kita terjadi sejak pemerintah membukakan pintu bagi pihak manapun untuk berusaha di bidang telepon selular (Ponsel) pada tahun 1996. Ini kemudian diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 36/1999 tentang Telekomunikasi.
Selain sang perintis, Telkomsel, kini warga masyarakat bebas memilih jasa layanan ponsel dari beberapa operator lainnya, yakni Excelcomindo, Indosat, Bakrie Telecom, Mobile-8 Telecom, Natrindo Selular, Sampurna Telekom, dan Pasifik Satelit Nusantara.
Hukum alam dalam dunia bisnis jelas tak terhindarkan. Persaingan sengit antaroperator ponsel sudah terjadi. Semakin lama persaingannya semakin seru. Tiap operator mengeluarkan ”ilmu” tertinggi untuk memperluas pangsa pasar.
Warga masyarakat (pelanggan atau konsumen) kini sangat diuntungkan oleh persaingan sengit antaroperator ponsel tersebut. Mereka berlomba-lomba menciptakan dan menjual aneka produk (layanan) yang sangat memikat hati konsumen.
Hal yang paling menggiurkan konsumen atau calon konsumen pastilah tarif yang terus menurun. Rupanya salah satu kiat yang diterapkan oleh para operator ponsel untuk memenangkan pertarungan adalah perang tarif.
Tarif Menurun
Tarif paling murah, bahkan seringkali gratis, pastilah panggilan sesama pelanggan operator yang sama (on-net). Operator lama tak mau kalah. Mereka juga menerapkan tarif murah untuk mempertahankan atau memperluas pangsa pasar. Jadi, perang tarif antaroperator ponsel memang tak terhindarkan lagi.
Sebagai contoh, Excelcomindo menurunkan tarifnya sebesar kira-kira Rp 149 per 30 detik, sedangkan Telkomsel memberlakukan tarif Rp 300/menit untuk pelanggan yang melakukan panggilan pada pukul 23.00-07.00, sedangkan Indosat bahkan memberikan layanan gratis kepada pelanggan yang melakukan panggilan pada pukul 00.00-05.00.
Lalu banyak operator yang menawarkan berbagai keuntungan, antara lain roaming gratis, tarif telepon interlokal sama dengan tarif lokal, SMS gratis, dan bonus pulsa. Perang tarif ini jelas menyebabkan tarif Ponsel cenderung menurun. (Nathan dan Atmitra dalam Sri Adiningsih,”Persaingan pada Industri Telepon Selular di Indonesia”, Antara-News, 27-8-2007).
Penggunaan ponsel di Tanah Air terus bertumbuh pesat selaras dengan dengan peningkatan kualitas layanan dan kinerja para operator. Apalagi biaya jaringan bergerak terus menurun dan kualitasnya pun meningkat. Pada akhirnya telepon bergerak (mobile phone) atau ponsel menjadi lebih atraktif daripada telepon tetap. Ponsel kini menjadi substitusi telepon tetap sebab pengguna dapat melakukan berbagai layanan seperti dengan telepon tetap, termasuk internet dan chatting.
Jumlah pengguna ponsel terus meningkat drastis sementara jumlah pengguna telepon mandeg, bahkan menurun. Kini jumlah pelanggan ponsel (54.370.000 per September 2006) jauh lebih banyak daripada pelanggan telepon tetap (kurang-lebih 10 juta sambungan). Yang tergolong operator ponsel besar (lebih 5 juta pelanggan/ sambungan) hanya tiga, yakni Telkomsel (35,6 juta pelanggan/sambungan), Indosat (15,9 juta), dan Excelcomindo (9,5 juta).
Ini data Oktober tahun lalu. Ini berarti pangsa pasar Excelcomindo 14,8 persen, Indosat 24,8 persen, dan Telkomsel 55,6 persen, dan sisanya (6,2 persen) menjadi milik lima operator Ponsel kecil lainnya.
Semakin banyaknya operator baru Ponsel di negeri ini telah meningkatkan kompetisi, menurunkan tarif, sehingga berdampak terhadap penurunan tingkat pendapatan rata-rata per pengguna (Average Revenue per User–ARPU) di banyak operator.
Untuk mengetahui kinerja industri telekomunikasi (operator), selain dilihat dari sisi kepentingan masyarakat, seperti perubahan harga, perubahan layanan, dan cakupan jaringan, perlu juga dilihat dari sisi keuangan atau tingkat labanya. Dari data Return on Asset (ROA) operator Ponsel dapat dilihat bahwa ROA banyak operator Ponsel telah turun pada tahun 2005. Ini menunjukkan betapa dinamisnya pergerakan biaya dan pendapatan jangka pendek dibandingkan dengan potensi keuntungan jangka panjang (Nathan dan Atmitra).

Perang Kualitas Layanan
Meski begitu, terbukti tiap operator masih berhasil meraup pendapatan dan laba yang cukup besar. Ini dapat dilihat pada Laporan Tahunan tiap operator Ponsel. Hal ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan jumlah konsumen yang terus meningkat pesat.
Presiden Direktur Exelcomindo Hasnul Suhaimi baru-baru ini mengungkapkan, dengan diluncurkannya layanan tarif Rp 1/detik (mulai detik ke-121) sejak Juli lalu, jumlah pelanggan operator tersebut bertambah sekitar sejuta orang/sambungan (mayoritas pelanggan Bebas).
Banyak pelanggan Xplor juga turut menikmati tarif murah, sehingga jumlah pelanggan Xplor pun meningkat seacara signifikan. Dengan perkembangan positif ini, Hasnul Suhaimi sangat optimistis, pada akhir tahun ini jumlah pelanggan Excelcomindo mencapai 13 juta orang/sambungan (Republika, 3/10).
Para operator ponsel pasti sadar betul, pada suatu saat kelak, terutama bila semua kapasitas jaringan telah digunakan secara penuh, kunci utama untuk memenangkan persaingan ketat bukan lagi pada faktor tarif murah, melainkan pada faktor aneka dan kualitas layanan yang prima.
Para konsumen, terutama kalangan atas dan menengah, pasti jauh lebih mengutamakan aneka dan kualitas layanan yang sangat bagus ketimbang tarif murah namun mutu layanan rendah. Negara-negara lain, seperti Malaysia, sudah membuktikan ini. Di sana tak ada perang tarif antaroperator. Yang ada hanyalah perang kualitas layanan.
Kita percaya, bahwa hukum alam yang berlaku dalam dunia industri jasa telekomunikasi nanti pasti membuat para operator Ponsel di Tanah Air bersaing sengit secara sehat dan rasional. Dan kepentingan masyarakat atau konsumen tetap di atas segala-galanya. Kami (konsumen) untung, dan mereka (para operator Ponsel) tak buntung, tetap meraup laba secara wajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: