Kapolri Dilecehkan Bawahan

JAKARTA, KAMIS – Orang nomor satu di Polri, Jenderal Sutanto, dilecehkan seorang kapolres. Polri pun mengeluarkan instruksi agar para anggota Polri bersikap sopan kepada siapa pun.

Perlakuan kasar seorang polisi kepada atasan tertingginya itu terjadi Sabtu, 10 Mei 2008. Menurut sumber Warta Kota, pada hari itu sekitar pukul 23.00, Kapolri Jenderal Sutanto menelepon Kapolres Nganjuk, Jawa Timur, dengan telepon selulernya. Sutanto menelepon untuk mengecek situasi di wilayali Nganjuk.

Seperti diketahui, sejak awal Mei lalu Nganjuk sering disebut-sebut di media massa karena salah satu warganya, Djoko Soeprapto, mengaku menemukan teknik mengubah air laut menjadi bahan bakar untuk mesin.

Djoko pernah mempresentasikan temuannya itu di hadapan Presiden SBY dan Presiden memberi nama blue energy untuk temuan Djoko. Di sisi lain, kalangan akademis meragukan temuan Djoko. Nama Djoko makin “tenar” karena dia menghilang saat harus memamerkan blue energy di depan Presiden SBY.

Terkait dengan telepon menjelang tengah malam itu, Kapolres Nganjuk AKBP Subtyanto yang menerima telepon tersebut menjawab dengan seenaknya. Dia bahkan tak percaya si penelepon adalah pimpinan tertinggi Polri.

Buntut dari kejadian itu, keluarlah surat teguran dari Mabes Polri kepada para kapolda. Lalu, Kapolda Jatim secara khusus mengeluarkan surat untuk para kapolwil dan kapolres di wilayahnya. Surat-telegram dengan derajat kilat dan klasifikasi rahasia tersebut (biasa disebut TR/telegram rahasia) dikeluarkan tanggal 4 Juni 2008.

Surat yang diteken Kabid Profesi dan Pengamanan Polda Jatim Kombes Wanto Sumardi itu isinya antara lain perintah kepada para anggota Polda Jatim agar dalam menerima telepon dari siapa pun hendaknya bertutur kata dengar baik, sopan, dan simpatik.

Isi lain TR itu adalah tidak berpikir negatif terhadap penelepon maupun informasi yang disampaikan penelepon. Apabila curiga si penelepon adalah orang iseng, hendaknya tetap diterima dengan baik dan secepatnya mengecek kebenaran identitas penelepon maupun informasi yang disampaikannya.

Di bagian atas TR dijelaskan alasan keluarnya surat tersebut, yakni pengalaman Kapolri menelepon ke Mapolres Nganjuk, Sabtu (10/5) sekitar pukul 23.00, dan dijawab dengan tidak simpatik.

TR tersebut menjadi pembicaraan sejumlah kalangan di Nganjuk. Saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, AKBP Subiyanto sedikit terkejut ketika ditanya soal telepon tengah malam itu. Pada kesempatan lain, Subiyanto membantah bahwa Kapolri menelepon dirinya pada 10 Mei lalu. Subiyanto juga mengatakan bahwa pemindahannya ke PTIK, Jakarta, gara-gara bersikap tidak sopan kepada Kapolri hanyalah isu belaka.

“Itu hanya isu. Pemindahan tugas saya tak ada kaitannya dengan telegram Kapolri. Kan telegram itu berisi arahan dan pedoman untuk menerima telepon. Kecuali kalau saya mendapat telegram tersendiri yang berisi pemindahan tugas,” kata Subiyanto.

Wakil Kepala Divisi Humas Polri Brigjen Sulistiyo Ishak membantah bahwa Kapolres Nganjuk dimutasi karena ada anak buahnya yang menerima telepon dari Kapolri dengan tidak sopan. Menurut Ishak, mutasi bagi anggota Polri adalah hal biasa selama yang bersangkutan belum pensiun.

“Mutasi hal biasa dan merupakan tour of area dan tour of duty serta sebagai bentuk penyegaran. Saya tidak mau berandai-andai soal itu,” ujar Ishak saat dihubungi semalam. (Warta Kota/wid/Suraa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: