Mengenali Ego

Shuhba  Mawlana Syekh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani QS
The Schweiben Alp: 15-18 Juli 1985

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin


Ego pada Pria dan Wanita

Ego mengetahui ribuan trik untuk menipu kalian.  Seperti seorang wanita yang merengek pada suaminya untuk lebih memperhatikan dia atau memberikan lebih banyak cincin dan semacamnya.  Seperti itulah ego memasang berbagai perangkap untuk kalian.

Ego membuat lebih banyak jebakan pada wanita daripada pria.  Wanita lebih mudah tertipu namun mereka juga mudah terpuaskan dan mencapai kedamaian dengan cepat.  Namun untuk pria, karena dia lebih kuat, jebakan egonya juga lebih kuat.  Kalian dapat memaku kayu dengan mudah, namun pria seperti sebuah batu.  Adalah sulit untuk memuaskan pria, namun bila dia sudah puas, maka kepuasan itu akan terus berlanjut dan mudah bagi mereka untuk mengontrol egonya.  Bagi wanita, walaupun cepat merasa puas, sulit bagi mereka untuk terus mengontrol egonya, karena dia akan kembali tertipu oleh egonya lagi.

Pria adalah alasan bagi wanita untuk kehilangan kontrol dirinya, pria akan dihukum karena hal itu.  Pria mempunyai kekuatan penuh untuk membuat suatu kontrol dan melanjutkannya.  Namun wanita tidak, mereka mudah dipengaruhi dan  mudah kehilangan kontrol diri.  Pria mempunyai tanggung jawab atas mereka (para wanita).

Ego harus Bisa Dikendalikan

Tanpa ego, kalian tidak mampu bereksistensi, kalian tidak dapat mencapai segala tingkat/maqam.  Yang terpenting adalah meletakkan ego di bawah kendali kita.  Ego adalah roket kita, jika roket tidak berada di bawah kendali, bagaimana kita bisa lepas landas?  Ketika Nabi SAW memerintahkan untuk menarik ego kita, itu artinya kita harus mengambil kendali atas ego kita.

Duduk Bersama

Alasan mengapa kita duduk bersama adalah sebagai latihan bagi sisi buruk ego kita,  nafs al-lawwaamah.   Biasanya yang paling disukai ego adalah:  ingin diperhatikan, menonjolkan diri, berbeda dari yang lain, dan menjadi seseorang, seseorang yang “lebih”.

Namun, selama kita duduk bersama, tak seorang pun yang lebih dari yang lain.  Tentu saja, terkadang keadaan menjadi sulit dan salah satu atau yang lain harus muncul.  Bahkan di dalam shuhba (asosiasi), dia harus menonjol. Tujuan shuhba adalah menjaga agar ego selalu berada dalam batasnya.  Jika salah satu dari mereka yang sedang duduk dalam shuhba memperlihatkan tanda keinginan untuk menonjol, maka dia harus ditarik kembali.

Karena, menonjolkan diri atau ingin “tampak” terjadi saat ego ingin muncul.  Menonjolkan diri berasal dari hilangnya “saat ini atau sekarang”—hadir—Hadirat Ilahi.  Untuk berada dalam Hadirat Ilahi tidak harus berada di suatu tempat di bulan sana, namun berada pada saat sekarang  ini – di sini. Hal semacam itu harus dipelajari, dipelihara dan dilatih agar kita selalu berada di waktu “sekarang,” dalam kehadiran-Nya.

Saat kalian kehilangan waktu “sekarang,” maka hal pertama yang akan terjadi adalah kalian merasa harus ‘terlihat’, “Hey, aku disini!  Kalian melihatku?  Apakah semua orang memperhatikan aku?  Apakah semua orang mendengar apa yang sedang aku katakan?  Bagaimana penampilanku?”

Kita adalah para Penunggang

Namun setan juga mempunyai ego, tak satu pun yang mau bersama mereka karena pemberontakkannya pada Tuhan dan tidak bertobat.  Maka  mereka tidak diampuni.  Sekarang kita, sebagai anak-anak Adam AS dan Hawa RA, kita hanya mempunyai satu ego.  Ego itu seperti seekor kuda dan seekor keledai.  Kalian adalah penunggangnya.  Dengan kearifan dan akal kalian, kalian harus mampu menunggangi kuda kalian.

Lalu mengapa kalian bertindak sebaliknya dalam kehidupan di atas bumi ini?  Manusia adalah penunggang.  Pernahkah kalian melihat seorang manusia membawa seekor kuda di atas pundaknya?

Keputusan Ada di Tangan Kita

Segalanya telah diprogram, namun sebagai insan manusia, kita diberi kehormatan untuk membuat keputusan di tangan kita.  Kita bukan seperti makhluk ciptaan lain.  Kita harus berusaha untuk yang terbaik bagi diri kita.  Kita bukan seperti binatang-binatang yang diikat.  Pahamilah kehormatan yang telah Dia berikan pada kita.

Area Kedamaian

Sepanjang kalian mampu menjauhi ego dan berhasil, maka kalian akan jauh dari iblis dan setan.  Dalam area kedamaian, tak ada lagi iblis dan setan.  Setiap orang mempunyai sebuah area pribadi yang damai.  Saat kalian mendarat di sana, tak seorang pun akan mengganggu kalian karena area itu telah dilindungi.  Tak seorang pun dapat memasukinya dan mengganggu kalian.  Tidak!  Kalian mempunyai perlindungan Ilahiah terhadap serangan setan dan iblis.  Segalanya boleh masuk, kecuali setan dan iblis.  Jika ada yang mencoba mengganggu, maka akan ada penjaga untuk kalian.


Latihan

Semuanya adalah latihan, dan semua tergantung kalian. Jangan meminta seseorang untuk mengikat leher kalian dan menariknya seperti seekor sapi.  Jangan!!  Kalian harus bebas!  Bebas dari ego.  Kalian harus bisa memerintah dan mengontrol ego.

Metode untuk Menundukkan Ego

Ketika ego kalian mulai datang memberontak dan ketika kalian melihat diri sendiri mulai “membahayakan”, maka kalian harus berpuasa satu hari dari matahari terbit sampai matahari tenggelam, jangan makan dan jangan minum.  Hal itu sebagai hukuman bagi ego kalian karena telah merusak diri sendiri.

Koneksi dengan Syekh: “Madad ya Sayyidi!”

Saya telah diberi perintah agar segalanya jelas; jika kalian kehilangan kontrol akan diri sendiri atau sedang dalam posisi yang sulit, maka kalian dapat mengontak saya dalam hati dengan segera.  Cukup dengan mengingat saya, kalian akan terhubung dengan segera, saya akan melihat kalian.  Sebuah kekuatan akan datang dengan cepat sehingga kalian terhindar jatuh pada situasi yang membahayakan.  Saya terkoneksi pada sebuah mata rantai yang terhubung pada Tuhan melalui para awliya.  Saya ada di bagian terakhir mata rantai yang akan menghubungkan kalian.  Seperti steker yang dapat menghasilkan aliran listrik.


Belajar Berperang

Musuh yang paling mengerikan adalah ego.  Jika seseorang tidak pernah diajari bagaimana cara berperang; maka apa yang bisa dia lakukan jika ada seorang musuh?  Musuh dengan cepat akan menaklukkannya.  Kalian juga membutuhkan seorang staf ahli bagi ego kalian, kalau tidak, dia akan menelan kalian dengan cepat.  Amat sulit untuk berperang dan membunuh ego.  Sebuah peperangan yang mengerikan dan membahayakan.  Namun banyak ahli yang mampu membunuh ego mereka.  Kalian harus menemukan salah satu dari mereka yang baru saja membunuh egonya, untuk menunjukkan pada kalian bagaimana caranya.

Kalian tidak dapat mendekati ego secara langsung.  Itu mustahil.  Di saat kalian mengatakan, “Aku umumkan perang terhadap kamu!”  Maka kalian sebenarnya telah kalah.  Kalian harus mengatakan pada ego, “Oh, temanku, teman terkasihku…”  Jangan memperlihatkan pedang kalian.  Jangan!  ”Kalian adalah temanku…”  Dengan cara ini, ego akan berakhir karena dia akan selalu meragukan hati kalian.  Kalian harus menunjukkan sisi pertemanan dan katakan padanya, “Saya menyukaimu melebihi siapapun!” Karena jika kalian bangkit dan mengumumkan perang, egolah yang akan menelan kalian.


Satu untuk Satu

Banyak metode untuk menjaga agar ego kita tetap berada di jalur yang benar, jalan yang kita inginkan.  Namun kitalah penyebab mengapa ego tidak patuh.  Kita patuh pada setiap nafsu ego tanpa membuat suatu persyaratan dengan mengatakan, “Jika kamu meminta aku akan berikan, dengan syarat kamu juga harus mematuhiku.”

Kita tak pernah menggunakan metode itu!  Kita hanya memberi tanpa menerima apa pun.  Kita patuh, namun ego tidak mematuhi kita.  Kalian harus membuat syarat: satu untuk satu.  Patuhi saya dan saya akan mematuhi kamu!  Kerjakan apa yang aku mau dan aku akan mengerjakan apa yang kamu mau.  Itu adalah sebuah metode yang telah dipergunakan dalam berbagai tradisi dan akan terus dipergunakan sampai akhir zaman.

Paling tidak kalian dapat mengatakan pada ego di awal pagi, saat kalian bangun tidur.  Ketika ego menginginkan makan dan minum, katakan, “Tidak!  Sebelumnya, kamu harus menunggu sampai aku menunaikan kewajiban salat.  Setelah itu baru aku beri kamu sesuatu untuk dimakan.  Jika kamu tidak patuh dan salat bersamaku, maka aku tidak akan memberimu makan atau minum sepanjang hari ini !”

Ya, kita harus tahu metode-metode itu, karena jika ego memasang perangkap pada kita, kita pun harus memasang perangkap bagi dia. “Mengapa aku harus mematuhimu dalam segala hal dan kamu tidak mematuhiku?  Apa alasanmu?  Jika kamu tidak mematuhiku dan salat, aku tidak akan mematuhimu sepanjang hari ini.  Tak ada makan dan minum untukmu.  Selamat kehausan dan kelaparan!”

Pada malam hari ego akan datang dan mengatakan, “Aku sudah mengantuk. Biarkan aku tidur.”  Tidak, dia bahkan tidak mengatakan “tolong” – tidak pernah mengatakan “tolong”.  Ego hanya memerintah, “Aku harus tidur.  Aku harus istirahat.”

Dan kalian mengatakan, “Saya banyak urusan, banyak yang harus dikerjakan.”  Maka Ego menjawab, “Aku tak mengerti soal itu.  Aku hanya ingin tidur sekarang !”

Jika kalian mengatakan, “Aku harus beribadah untuk Tuhanku sekarang.”  Ego akan mengatakan, “Tidak!  Masih ada banyak waktu sebelum salat.  Aku cuma ingin tidur sekarang!”

Pada saat seperti itulah kalian harus berani memerintah dia, “Tidak!  Aku tidak mengizinkan kamu tidur sebelum kamu salat!”

”Tetapi mataku sudah terpejam. Aku bisa apa?”

”Jika kamu tidak mematuhi perintahku, aku akan memberi garam di matamu!  Jika garam ada di matamu, maka kamu sama sekali tidak akan bisa tidur!  Jika kamu lakukan itu, aku akan lakukan ini!”

Wa min Allah at tawfiq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: